Bidadari di Tengah Belantara Halmahera
Pulau indah itu bernama Halmahera. Siapa yang tidak kenal dengan sebuah pulau di sebelah timur laut Pulau Sulawesi yang nampak seperti huruf K itu. Selain bentuknya yang unik, pulau itu juga memiliki keanekaragaman hayati yang sangat luar biasa. Pulau Halmahera secara administratif termasuk salah satu pulau yang menyusun Kepulauan Maluku. Maluku, beserta Sulawesi dan Nusa Tenggara, membentuk sebuah kawasan yang terunik di dunia, yaitu Kawasan Wallacea. Sebuah fenomena geografis yang dahulu ditemukan oleh seorang naturalis terkenal di dunia, Alfred Russel Wallace, jauh hari sebelum Charles Darwin menemukan teori evolusinya.


Kawasan Wallacea (www.biodiversityscience.org)
Menurut Coates dkk. (2000), Halmahera merupakan miniatur dari Sulawasi. Hal itu nampak dari morfologi pulaunya yang mirip, sama-sama seperti huruf K. Akan tetapi, jika dilihat dari komposisi avifaunanya, Maluku dan Sulawesi memiliki perbedaan yang sangat besar. Meskipun kedua pulau tersebut sempat terhubungkan oleh adanya Land Bridge (jembatan daratan) saat masa Pleistosen, komposisi avifauna Maluku lebih mirip dengan komposisi avifauna di Niugini. sebagai contoh, Maluku lebih banyak memiliki burung paruh bengkok (Psittacidae) dari pada yang dimiliki Sulawesi.
Kekhasan Maluku semakin diperkuat dengan adanya sejenis cendrawasih yang ada di Kawasan Wallacea. cendrawasih tersebut sering dikenal dengan nama Bidadari Halmahera. Burung dengan nama latin Semioptera wallacii, ini merupakan jenis endemik Maluku, artinya hanya bias kita jumpai secara liar di Maluku. Sebaran Bidadari Halmahera adalah Pulau Halmahera (subjenis S. w. halmaherae) dan Pulau Kasiruta serta Bacan (subjenis S. w. wallacei). Kedua pulau terakhir itu terletak di sebelah barat daya Pulau Halmahera.
Sama seperti kebanyakan burung lain, Jantan Bidadari Halmahera jauh lebih cantik dari betinanya. Tentu saja, fungsinya adalah untuk memamerkan (display) agar sang betina tertarik. Jantan berpenampilan sangat indah dengan perisai dada berwarna hijau mengkilap yang sangat menyolok di antara warna kuning kecoklatan yang mendominasi tubuhnya. Keindahan itu semakin sempurna dengan keberadaan dua bulu panjang pada tiap-tiap sayap yang berwarna putih. Burung ini dapat dijumpai di hutan primer, hutan pamah yang ditebang pilih dan hutan perbukitan.

Jantan Bidadari Halmahera dengan bulu cantiknya (© Erwin Collaerts)
Saat ini, IUCN RedList (2008) menetapkan status konservasi burung tersebut dengan kategori least concern. Dalam waktu dekat ini, kita masih dapat menjumpainya cukup umum di habitatnya. Akan tetapi, hal itu tergantung dari sikap manusia terhadapnya. Dunia sudah menyadari salah satu kekayaan hayati Indonesia itu (baca: Bidadari Halmahera). Sehingga sudah seharusnya kita mulai sadar, bahwa Indonesia adalah bangsa besar, sebagai salah satu bangsa dengan biodiversity hot spot terbaik dunia. Selamat berkhayal dengan Bidadari Indonesia ini, berkhayal untuk dapat melihat keindahan bulunya, mendengan keindahan kicauannya, dan keindahan tingkah lakunya. tentunya, di habitat aslinya, habitat yang harus kita lindungi untuk kebaikan bangsa kita.
Daftar Bacaan:
Coates, B.J., K.D. Bishop & D. Gardner. 2000. Panduan lapangan burung-burung di Kawasan Wallacea: Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. BirdLife, Bogor: xiv + 245 hlm.
Link terkait:
http://www.iucnredlist.org/details/146693
http://www.burung.org/detail_program.php?id=17&op=location
http://www.birdlife.org/datazone/species/index.html?action=SpcHTMDetails.asp&sid=5813&m=0
http://www.biodiversityscience.org/publications/hotspots/images/thumbnails/WALLACEA.jpg
About this entry
You’re currently reading “Bidadari di Tengah Belantara Halmahera,” an entry on Indonesian Hotspot
- Published:
- February 17, 2010 / 10:06 am
- Category:
- Burung
- Tags:





No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]