Bondol Jawa, Dulu dan Sekarang
sepasang bondol jawa
Kenangan masa kanak-kanak kita pasti tidak pernah terlupakan dengan berbagai permainan kecil yang menyenangkan. Salah satunya yang pernah saya pribadi lakukan adalah berburu sarang burung Pipit. Perburuan itu lebih dikhususkan pada anak burung yang baru menetas dan belum bisa terbang. Harapannya adalah, kami bisa memeliharanya hingga besar dan menjadi burung yang penurut. Perburuan biasanya kami lakukan di kawasan perumahan elit yang dijaga keasriannya. Dulu, burung Pipit itu sering bersarang di pohon-pohon cemara di pinggir jalan utama. letak sarangnya tidak terlalu tinggi dari permukaan tanah, tetapi pohon yang mereka pilih biasanya yang sangat lebat naungannya. Sehingga untuk mendapatkannya, kami harus menerobos masuk ke dalamnya.
Itu kisah dulu, sebelum saya mengetahui seluk beluk burung itu. Ternyata, saya baru tahu bahwa burung Pipit, atau yang juga biasa disebut Bondol, itu tidak hanya 1 jenis. Paling tidak selama ini saya sudah pernah menjumpai 3 jenis Bondol, Bondol Peking, Bondol Haji, dan Bondol Jawa. Nama terakhir adalah jenis endemik Jawa. Bondol dimasukkan ke dalam Genus Lonchura dengan spesifikasi pemakan biji. Makanya, kita sangat mudah menemukan kelompok burung ini di pesawahan.
Akan tetapi saat ini, di perkotaan yang paling mungkin kita temukan adalah Bondol Peking. Untuk Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides), saat ini sulit ditemukan di lingkungan sekitar kita. Mereka terancam karena habitat mereka menyusut. Bisa jadi karena Bondol Jawa lebih tidak toleran daripada Bondol Peking. Foto di atas saya dapatkan di Kawasan Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, pertengahan bulan Januari lalu.
About this entry
You’re currently reading “Bondol Jawa, Dulu dan Sekarang,” an entry on Indonesian Hotspot
- Published:
- February 17, 2010 / 10:00 am
- Category:
- Burung
- Tags:





No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]