Serindit Melayu “nyasar”

Jakarta konon katanya sumber mata pencaharian, banyak orang desa berbonding-bondong menyambut asa ke sana. Terbukti saat hari raya tiba, arus balik jauh lebih padat daripada arus mudik, karena migrasi sporadis penduduk desa ke kota. Ternyata, selain sumber pekerjaan, Jakarta juga menjadi sumber plasma nutfah “asing”, banyak jenis flora dan fauna tidak asli kawasan dapat ditemui di Jakarta. Introduksi menjadi istilah tepat bagi jenis-jenis flora-fauna tersebut. Human sentris menjadi penyebab proses introduksi tersebut terjadi. Keinginan untuk memelihara dan merawat flora dan fauna menjadi suatu hobi yang hampir mustahil dihilangkan pada sebagian orang.

Introduksi marak pada satwa burung, salah satu kelompok burung yang paling diminati adalah paruh bengkok. Kadang-kadang burung-burung tersebut terlihat di alam karena terlepas secara tidak sengaja akibat kelalaian atau ada juga yang sengaja dilepas. Salah satunya Serindit Melayu (Loriculus galgulus), jenis paruh bengkok kecil yang kami temukan sedang asik menikmati kuntum bunga Dadap Merah (Erythrina crista-galii) di alam bebas, tepatnya di kawasan ruang terbuka hijau Kampus UI Depok. Jenis ini sangat cantik, wajar jika dijadikan peliharaan. Meskipun demikian, burung ini tetap lebih menarik disaksikan di alam, karena butuh perjuangan terlebih dahulu untuk dapat melihatnya langsung.

Beruntung, saya hari ini (22/4/10) dapat menyaksikannya secara langsung. Tak berpikir panjang, senjata laras pendek (krn emang pendek) pun beraksi, jepret!!!

Tetapi, itu hanya dugaan, bisa jadi jenis ini memang tidak terintroduksi manusia melainkan “nyasar” dari habitat aslinya di Sumatera dan Kalimantan. Karena, beberapa peneliti pernah mencatat jenis ini ditemukan di pesisir jawa paling barat. Any suggestion?

Advertisement

About this entry