Punai gading muda belajar terbang

Kira-kira bagaimana perasaan seorang ibu yang baru pertama kali menyaksikan anaknya belajar berjalan? takut, cemas, was-was, khawatir dan perasaan sejenis pasti menyelimuti sang ibu. Lebih-lebih jika sang anak tak kunjung dapat berjalan meskipun seharusnya bayi-bayi seusianya sudah normal dapat berjalan. Rasa gembira kemudian melenyapkan kegundahan itu mana kala satu dua langkah kecil sang anak diiringi dengan langkah-langkah lain yang lebih teratur dan tegas, menggambarkan sang anak sudah mulai mahir memainkan kaki-kaki kecilnya. Fenoma ini pasti dialami oleh semua ibu di dunia. Meskipun dalam kondisi normal, sang anak pasti dapat berjalan seiring dengan kebiasaan yang dia lakukan. Lalu bagaimana dengan hewan?

Hewan pun tidak berjauh beda. Selalu ada proses yang disebut “belajar” untuk dapat melakukan hal yang baru. Akan tetapi pada dunia hewan, proses belajarnya sangat beragam. Ular misalnya, sejak menetas dari telur, dia sudah dibekali dengan bisa yang cukup membunuh mangsanya. Ular muda berburu sendiri tanpa ditemani induknya. Kangguru tentu beda lagi, hewan kawasan Australia ini perlu di”inkubasi” dalam waktu tertentu di kantung induknya setelah dilahirkan. Rusa justru kebalikannya, “alam” menuntutnya segera berlari beberapa saat setelah dilahirkan, tidak ada waktu lama untuk belajar berjalan. Sebuah tuntutan kedinamisan interaksi mangsa-pemangsa. Semua perbedaan proses belajar tadi sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan tingkat kematangan embrio sesaat sebelum melihat dunia.

Untuk burung, kecuali burung pejalan, hewan bersayap ini harus mengalami proses yang dinamakan “belajar terbang”. Proses yang sangat menuntut timing yang tepat serta kesabaran induk yang luar biasa dalam membimbing. Ukuran tubuh yang semakin membesar, tidak memungkinkan sang induk terus-menerus melolohkan makanan ke mulut anaknya. So, It’s time to fly….

Beberapa waktu lalu, saya menyaksikan induk jantan punai gading (sejenis burung dara berwarna menarik) sedang mengajari dua ekor anaknya belajar terbang. Peristiwa langka ini saya saksikan di Pulau Pagai Utara, Kepulauan Mentawai, saat melakukan perjalanan lapangan. Sebuah usaha yang berat untuk sang induk!!!

Jantan dewasa ditandai dengan seluruh bagian leher berwarna pink dan dada berwarna jingga. Sedangkan kedua anak masih memperlihatkan bulu-bulu halus berwarna kecoklatan.

Sang induk tampak sesekali “menggendong” anaknya ketika mengajari terbang.

Advertisement

About this entry